Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." (Q.S. Al-A'raf: 43)
Iman
Sebab iman adalah tambatan hati yang menggema ke dalam seluruh ucapan dan laku perbuatan.
Quran Beloved
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Al A'raf:52)
Dua orang gadis. Yang satu memegang tumpeng, yang lain memegang sebuah poster bertuliskan, "Happy Birthday!! We love you :* :*" Dan seorang lelaki mengabadikan kisah itu dalam sebuah bidikan kamera. Ketiganya tersenyum.
***
Subhanallah, skenario Allah itu sangat indah. Mungkin ada tawa, ada perih, ada tangis. Namun ketentuan Allah, itulah yang terbaik. Bagi mereka yang percaya, selalu ada barokah yang menyertainya. Insya Allah. Alhamdulillah. :)
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Ini hari kesekian saya mengikuti perkembangan berita tentang artis dan narkoba. Ya, kita sedang membicarakan kasus yang sama. Obat-obatan, yang saya tahu banyak orang yang menggunakannya untuk menghilangkan kesedihan, atau kesepian. Terutama untuk jenis MDMA atau ekstasi, obat itu memberikan efek stimulan seperti meningkatkan rasa senang, rasa percaya diri dan energi meningkat. Efek psikedelik meliputi perasaan kedamaian, penerimaan dan empati. Wajar saja kalau banyak orang menduga, mereka menggunakan obat-obatan tersebut untuk dopping. Kita semua tentunya bisa mengerti kalau setiap orang memiliki masalah masing-masing. Tetapi kita tidak bisa memberi toleransi kepada orang-orang yang menggunakan obat-obat terlarang sebagai pelarian.
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al Israa: 82) Allah telah memberikan solusi terhadap semua kegalauan hati. Allah telah menyerukan kepada kita untuk mendekatkan Alquran pada kita, bukan mendekatkan obat-obatan atau yang lainnya. Kita sebagai orang iman harus lebih banyak berusaha mempertebal keimanan agar tidak terpengaruh untuk mencoba hal-hal yang memudharatkan. Well, kasus artis dan narkoba ini tentunya menjadi pelajaran, siapapun bisa menjadi korban. Mari kita memohon perlindungan pada Allah agar barang-barang tersebut tidak mendekat kepada kita dan keluarga kita.
“Saya bingung, Om. Orang tuanya mendesak saya untuk segera
menikah dengan dia,” ujar Rudi kepadaku. Nampaknya ia sedikit cemas dengan
masalahnya.
Aku menyentuh janggutku yang sedikit lebat, diam menyimak cerita keponakanku.
“Mereka takut anaknya patah hati atau bagaimana. Ya saya sih
oke-oke aja, Om. Tapi Mami inginnya saya jangan terburu-buru menikah. Saya juga
baru lulus,” lanjutnya
Aku membenarkan posisi dudukku, “Kamu mau denger pendapat
Om?”
Rudi menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil, “Saya kan
kesini emang ingin denger masukan dari Om,”
Aku menghela nafas, “Harusnya masalah seperti ini nggak perlu terjadi,”.
“Halo, Kak!” aku berkata setelah istriku Naina memberikan telepon
padaku. Aku meletakkan sendok dan menyudahi makan siangku.
Sebuah suara manja di seberang sana berseru menjawabku.
“Pa, Jani ganggu Papa, nggak, nih?”
Aku meneguk segelas air yang telah disiapkan istriku, “Enggak,
Papa baru selesai makan, nih.”
“Papa sehat?”
“Alhamdulillah, Papa sehat, Mama juga,” aku melirik sekilas
istriku yang memberi isyarat untuk memberikan gagang telepon padanya, “Mau
bicara sama Mama?”
“Enggak, Pa, tadi pagi sudah ngobrol panjang sama Mama,”
Aku terbahak, “Nggak mau katanya, Ma,”. Aku mengedip genit
pada istriku yang pura-pura ngambek.
“Kenapa kak?” tanyaku pada Janita, putri sulungku.
Spesial untukku, adik-adikku, dan semua anak yang mencintai kedua orang tuanya.
Ingat dengan kisah Malin Kundang? Kisah tentang anak yang menjadi batu sebab tidak mengakui ibundanya yang miskin. Di masa taman kanak-kanak dulu, saya dan teman bergidik ngeri ketika mendengar ceritanya dari Ibu Guru. Saya juga pernah mendengar cerita serupa, Batu menangis. Saya mengetahuinya dari majalah yang setiap bulan dibelikan Bapak ketika pulang kantor kala itu. Ceritanya hampir sama, tentang anak yang menyebut ibunya sendiri pembantunya. Dengar-dengar batunya masih ada hingga saat ini di suatu tempat di Kalimantan Barat.
Dari cerita-cerita yang ada, saya menyimpulkan sendiri kalau anak yang durhaka itu anak yang tidak mengakui orang tuanya, atau anak yang bersikap kasar pada orang tua, bentuknya seperti menghardik, membentak, menendang orang tua, seperti ilustrasi yang ada di majalah.
Namun sejalan dengan usia saya yang semakin tua *eh*, saya menemukan bentuk-bentuk baru yang menurut saya bisa dikatakan durhaka terhadap orang tua. Apa saja itu?
Jadi Akhwat Jangan Genit
Pakai bedak kok sampe enam lapis
Maunya sih biar kelihatan manis
Belum lagi minyak wangi yang seember
Apalagi tujuannya kalau bukan biar para ikhwan lumer
Jadi ikhwan jangan genit
Kalau diluar tampil alim dan sangat sibuk
Tapi waktu dengar adzan, ke masjidpun jadi yang paling ngantuk
Apalagi kalau mau datang waktu Jum'atan Beuh,lewat depan rumah si akhwat dengan tampilan paling jantan
Seakan dia sedang memikirkan berbagai hal
Padahal tujuannya nggak jauh- jauh dari update sendal
Astagfirullah....
Aku mendapatkan gambar ini dari seorang teman. Aku sangat berterima kasih padanya karena ia begitu peduli dengan wanita, khususnya cara kami berpakaian. pertama kali melihat gambar itu, aku tertawa. Itu loh, visualisasi wanita yang tidak berhijab. Lucu sekali penggambarannya, bahkan di situ digambarkan sambil bergaya, berbeda dengan gambar wanita berhijab yang berdiri dengan sopan. Gambar itu benar-benar jujur, menggambarkan realita yang ada bahwa masih banyak teman-teman kita yang masih berpakaian seperti itu.
Tapi yang bikin gambar itu sangat lucu buatku, aku seperti melihat diriku beberapa tahun yang lalu. Sebenarnya orang tua telah mengajarkanku berpakaian yang benar sesuai syariat. Ibuku memberi contoh dengan menggunakan pakaian yang benar juga. Beliau selalu memilih dan memakai pakaian yang longgar. Yaa, walaupun beliau tidak menyukai rok, beliau selalu memastikan memakai celana panjang yang lebar dan tidak ketat. beliau juga memakai blus yang panjang menutupi paha. Sementara Bapak, semenjak aku memutuskan untuk berjilbab ketika kelas 4 SD, bapak selalu membelikanku pakaian yang pantas dan sesuai syariat: longgar dan tidak menerawang. Beliau bahkan tak jarang menyertaiku ketika aku hendak membeli pakaian baru.
Aku pun bertambah usia, dan seiring waktu berlalu, Bapak mungkin berpikir aku sudah dewasa, sehingga beliau tidak lagi menentukan pakaian-pakaian yang harus aku kenakan. Akulah sendiri yang harus menentukan sendiri. Awalnya kupikir itu tidak masalah, toh aku rasa aku tahu bagaimana cara berpakaian yang baik.
Tetapi ketika di SMA, sekitar kelas sebelas atau dua belas, aku diejek temanku karena pakaianku. Mereka bilang pakaianku kuno dan terlihat seperti bu-ibu. Mungkin karena pengaruh pergaulan, akhirnya aku mulai berani memakai celana jins ketat. Yaa walaupun aku masih memakai blus panjang yang menutup paha. Kadang-kadang aku sendiri merasa tidak nyaman dengan pakaian itu, tapi aku sungguh benci diejek teman-teman karena pakaianku. Benar-benar aku telah menjadi korban mode.
Tapi semuanya berubah ketika aku lulus danpindah ke lingkungan yang baru. Aku berkenalan dengan seorang teman yang pakaiannya islami, longgar, ia selalu menggunakan rok panjang. Suatu hari ia pernah berkata, kalau kita tidak dapat menjaga aurat kita, maka itu akan menimbulkan dosa bagi diri kita sendiri dan bagi orang yang melihatnya.
Dari situ aku menyadari pentingnya berhijab, menutup aurat, dan itu adalah sebuah keharusan. Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti mengapa Ibu dan Bapak begitu cerewet dalam mengatur urusan berpakaian kami, anak-anaknya.
Sejujurnya, aku belum bisa dikatakan telah berhijab dengan sempurna seperti dalam gambar itu. Ya, aku Cuma punya satu gamis. Tapi aku berusaha berpakaian sesuai syariat. Aku tak lagi memakai celana jinsku yang ketat itu. Aku mulai memakai rok panjang yang dipadu dengan blus atau kaus yang longgar. Saat ini aku sedang mencoba menggunakan jilbab yang lebih lebar. Walau sempat ditertawakan dan diangap berlebihan, aku tetap ingin melakukan apa yang menurutku benar.
Aku sungguh berterima kasih pada orang tuaku, karena dengan didikan dan tuntunan mereka sedari kecil, aku tidak terlalu kesulitan untuk berusaha berhijab. Karena terbiasa, barangkali. Juga pada temanku yang mengigatkanku pentingnya menutup aurat. Sungguh suatu nikmat dari Allah aku dipertemukan dengan teman-teman yang begitu baik dan membawa kebaikan.
Saudariku, mungkin kalian menganggap ini berlebihan. Tapi semua yang kulakukan saat ini tak lebih bahwa aku ingin menutup aurat seperti yang Allah ajarkan pada kita. aku ingin jadi muslimah sejati, dimulai dari cara berpakaian kita. Aku lebih bahagia kalau kalian pun memiliki pikiran yang sama sehingga kita bisa mencapai surga bersama-sama pula.
I got this picture from my friend. I really thank to him because he really cares 'bout women, especially women's clothing and appearance. I first laughed when I saw this picture. The picture of three girls not in hijab, that's really funny. Even the picture shows that the girls pose like models. That picture "tells" the truth, the fact that there are so many girls still get dressed like that.
But what makes it really funny to me is because I see my self some years ago. Actually, my parents teach me to dress as well as muslimat should dress. My mother always use loose clothes. Well, she doesn't like using long skirt, she likes using trousers but she always makes sure that they're loose. She also uses blouses which are long and cover thigh.
My father, since I decided to use jilbab when I was in fourth grade, he used to buy me appropriate dresses: loose and not thin. He often accompanied me when I want to buy clothes.
In this life, we are often overwhelmed by the questions, how to live this life, how to run the religion as a Muslim. Well' it's natural as human being. We as human beings who expect the face of his Lord will certainly make every effort to do as God wants. And that's why God sent down the Qur'an as a guide and the Prophet Muhammad has left hundreds guidance recorded in the Hadith.
After the Great Prophet's gone, the differences begin to arise. The latest is the discussion between me and my friend about the law of collective sacrifice.
Dalam hidup ini, kita sering diliputi pertanyaan-pertanyaan, bagaimana menjalani hidup ini, bagaimana menjalankan syariat agama sebagai seorang muslim. Ya, itu wajar. Kita sebagai manusia yang mengharapkan wajah Tuhannya pasti akan berusaha semaksimal mungkin berbuat seperti yang Tuhan mau. Dan untuk itulah Allah menurunkan Alquran sebagai petunjuk dan Nabi Muhammad telah meninggalkan ratusan tuntunan yang tercatat dalam hadits-haditsnya.
Selepas kepergian Nabi, mulailah timbul perbedaan-perbedaan. Yang paling dekat, diskusi antara aku dan temanku mengenai hukum kurban secara kolektif adalah salah satunya.
Sebenarnya, masalah itu tidak perlu diperdebatkan, karena hukumnya sudah jelas. Aku juga telah memberi penjelasan mengenai hal tersebut di postinganku sebelumnya. Aku sangat menyayangkan kalau ada pihak yang secara tidak bertanggung jawab langsung menghukumi sesuatu tanpa berpegang pada dalilnya. Punya dasar apa mereka menghukumi sesuatu.
Dan janganlah kamu mengikuti (mengerjakan) apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al-Israa': 36)
Agama islam itu bukan sekadar Question and Answer, bukan sekadar “bolehkah begini, bolehkah begitu”, “apakah hukumnya?”, “bagaimana hukumnya”, “wajib atau tidak”. Islam bukan seperti itu. Islam memiliki hukum-hukum yang mengatur segala sesuatunya.
Lantas, bagaimana kita bisa mengetahui hukum-hukum tersebut? Ada tiga: ngaji, ngaji, ngaji! Satu-satunya cara adalah kita harus mencari ilmu, bukan mencari, menuntut malah! Tentunya sumber yang paling valid, yang paling sah, dan terlengkap adalah Alquran dan Alhadits, bukan kitab karangan, buku-buku, atau jawaban-jawaban yang tidak menyertakan dalil atas pertanyaan-pertanyaan yang sering kita ajukan.
Dari ‘perdebatan’ itu, aku semakin yakin akan pentingnya mengaji Alquran dan Alhadits. Dengan mengaji, kita benar-benar mengetahui asal muasal suatu hukum dan bagaimana hukumnya. Andaikata aku tidak mengaji, tentu aku jadi ragu, apakah ibadahku sudah benar atau belum, dan mungkin aku akan percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan temanku. Tapi karena aku mengaji, aku yakin dan khusnudzonbillah bahwa ibadahku benar, sah, dan akan mendapat pahala yang Alloh janjikan pada hamba-hambaNya.
Satu lagi pentingnya mengaji. (Lagi) Aku ambil contoh diskusi dengan temanku mengenai qurban beberapa waktu lalu. Sebenarnya, temanku itu tidak seratus persen salah ketika mengatakan bahwa qurban kolektif itu tujuh orang untuk berqurban sapi, sepuluh orang untuk berqurban unta. Itu pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW, tapi bukan menjadi hukum bahwa qurban patungan maksimal harus sekian, sekian, atau sekian. Tapi sepertinya ia hanya sepotong-sepotong mengartikan hadits tersebut tanpa melihat bagaimana riwayatnya. Atau ia hanya membaca potongannya saja. Nah di sinilah pentingnya mengaji dengan cara manqul, musnad, muttasil. Kita akan mendapatkan semuanya secara komplit, mulai dari penjelasannya, teknisnya, larangannya, aturan-aturannya, lengkap. Kalau kita hanya mengetahui sepotong-sepotong, maka penafsirannya akan berbeda, contohnya, ya masalah qurban kolektif itu tadi, iya kan?
Niscaya Allah akan mengangkat derajat pada orang-orang yang beriman dari golongan kalian dan orang-orang yang diberi ilmu. Adapun Allah tu waspada terhadap apa-apa yang kalian kerjakan. (AlMujadilah: 11)
Itulah mengapa, berulang kali kusiarkan pada teman-teman, ngaji yuk! Ayo kita mengaji Alquran dan Alhadits. Dengan mengaji Alquran dan Alhadits, kita akan mendapat kepahaman, kita jadi tahu mana yang benar, mana yang salah. Kita tidak akan terbawa arus, terbawa dengan pemikiran orang-orang karena jalan yang benar sudah ditunjukkan dalam Alquran dan Alhadits.
Kalau mengaku orang islam, tapi tidak mengaji, tidak mengetahui hukum-hukum agama Islam, apakah tidak malu pada Allah, Rasulullah, dan semua ciptaanNya?
Berawal dari sebuah status tentang Shaun the Sheep, obrolan aku dan temanku berujungpada bagaimana hukum tentang qurban secara koletif. Ini menarik karena banyak sekali orang salah persepsi tentang hukum ini. Bisa jadi mereka hanya mendengar sepotong-sepotong atau sama sekali belum mendengarkan.
Belum puas di facebook kami berbincang, mereka mengirimiku sms, menyalahkan kalau patungan sapi lebih dari tujuh orang itu tidak sah disebut qurban dan tidak dapat diterima. Ternyata mereka mengetahuinya dari membaca Question and Answer, entah dari buku, internet, entahlah.
[An-Nuur Q&A] Tanya: Bagaimana hukum iuran dalam berkurban melebihi 7 orang, misalnya satu sekolahan semua muridnya iuran, apakah kurbannya bisa diterima?
Jawab: kurban kolektif untuk sapi maksimal 7 orang, lebih dari itu tidak sah sebagai kurban, nilainya shodaqoh.
Begitu pesan yang kuterima. Aku hanya tertawa dalam hati. Dalil macam apa yang mendasari hal tersebut? Karena saat idul Adha kemarin aku sangat sibuk mengurus daging-daging di mesjid, aku berjanji pada temanku untuk menjelaskan semuanya. Sayang, setelah itu aku disibukkan dengan urusan kuliah sehingga baru punya waktu menjelaskannya sekarang.
Langsung saja. Jadi hadits tentang qurban secara kolektif itu seperti ini, teman-teman:
لْاِشْتِرَاكُ فِي اْلأُضْحِيَّةِ
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى سَفَرٍ فَحَضَرَ النَّحْرُ فَاشْتَرَكْنَا فِى البَعِيرِ عَنْ عَشْرَةٍ وَالْبَقَرَةٍ عَنْ سَبعَةٍ. رواه النسائ كتاب الضحايا -- صحيح
Dari Ibn Abbas, ia berkata, kami bersama Rasulullah SAW di dalam perjalanan. Maka datang (harinya) menyembelih qurban. Maka kami patungan seekor unta (untuk) sepuluh orang dan seekor sapi (untuk) tujuh orang.
Dari hadits ini kita dapat menyimpulkan bahwa patungan dalam qurban itu diperbolehkan. Tetapi harus dingat, bahwa tujuh orang atau sepuluh orang bukan batasan maksimal orang yang diperbolehkan patungan. Aku khawatir temanku atau gurunya yang mengajarinya hanya mengkaji hadits ini sepotong-sepotong. Perhatikan hadits tersebut seluruhnya. Ketika itu Nabi dan para sahabat sedang berada dalam perjalanan, dan kebetulan yang patungan unta sebanyak sepuluh orang, dan yang patungan sapi sebanyak tujuh orang, karena mereka memang jumlahnya sekian pada saat dalam perjalanan. Seandainya pada saat itu jumlah mereka tidak sekian, tentu bunyi haditsnya akan lain, iya bukan?
Lalu temanku juga menambahkan kalau kurban kambing itu harus seorang. Siapa bilang? Mari kita simak hadits berikut.
Atho’ ibn Yasar berkata, “Aku bertanya pada Aba Ayyub Al-Anshoriy, bagaimanakah adanya menyembelih qurban di zaman Rasulullah SAW? Ia (Aba Ayyub Al-Anshoriy) berkata, ‘Seorang laki-laki menyembelih seekor kambing bagi dirinya dan ahli rumahnya (keluarganya). Mereka makan dan memberi makan (pada manusia) sehingga bangga-bangga (bersuka cita), maka qurban itu sebagaimana yang kamu lihat (sekarang).
Mudah-mudahan penjelasan ini bisa membuka pikiran teman-teman. Tidak ada kata terlambat, kok. Insya Alloh tahun depan mudah-mudahan kita dipertemukan lagi dengan Idul Adha sehingga kita bisa berqurban, walaupun dengan kolektif.
Semua orang bisa kita jadikan teman. Tetapi hanya satu atau dua orang yang bisa jadi sahabat dekat. Dan untuk memilih seorang sahabat dekat, sebaiknya akhwat memilih akhwat, ikwan memilih ikhwan, karena hanya sesama wanita yang mengerti setiap detail tentang wanita dan begitupun dengan pria. Jika ada yang berkata bersahabat dengan lawan jenis itu lebih cocok, itu hanya sedikit dari tipu daya syetan.
Kadang aku merasa terlalu dekat dengan seorang pria, tapi lebih sering menyadari pertemanan kami biasa saja. Kadang aku merasa terlalu akrab dengannya, tapi tak jarang juga kami bersikap dingin satu sama lain. Beberapa kali ia meminta bantuan padaku, tetapi aku lebih sering menyusahkannya.
Ada yang salah! Entahlah apakah ia menyadarinya. Tapi semoga saja ia tidak salah sangka.
Lagi duduk-duduk di ruang kerja Bapak yang rapi sangadt (alay mode), aku mengambil selembar kertas di meja.
“Apaan nih,” batinku sambil membaca tulisan di kertas itu.aku langsung bergetar membacanya. Merinding! Aku penasaran, dari mana bapak dapat kertas ini. Dan kenapa? Ah, jangan ditanya kenapa deh, yang penting aku cukup dibuat waspada dan ingat! Karena modemnya dengan anteng nongkrong di colokan usb PC, langsung deh aku googling.
List pertama yang dikasih mbah google yaitu link ini. Selengkapnya baca ya!
INILAH PROSES KEMATIAN DAN HANCURNYA TUBUH KITA:
Inilah Proses Kematian dan Hancurnya Tubuh Kita!
Sesaat sebelum mati, Anda akn merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan n badan bergetar. Anda merasa dingin ditelinga. Darah berubah menjadi asam n tenggorokan berkontraksi.
0 Menit
Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen.
1 Menit
Darah berubah warna n otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin.
3 Menit
Sel-sel otak tewas secara masal. Saat ini otak benar-benar berhenti berpikir.
4 – 5 Menit
Pupil mata membesar n berselaput. Bola mata mengkerut krn kehilangan tekanan darah.
7 – 9 Menit
Penghubung ke otak mulai mati.
1 – 4 Jam
Rigor Mortis (fase dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku n rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati.
4 – 6 Jam
Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yang berkumpul lalu mati dan warna kulit menghitam.
6 Jam
Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan.
8 Jam
Suhu tubuh langsung menurun drastis.
24 – 72 Jam
Isi perut membusuk oleh mikroba dan pankreas mulai mencerna dirinya sendiri.
36 – 48 Jam
Rigor Mortis berhenti, tubuh anda selentur penari balerina.
3 – 5 Hari
Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung.
8 – 10 Hari
Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah.
Beberapa Minggu
Rambut, kuku dan gigi dengan mudahnya terlepas.
Satu Bulan
Kulit Anda mulai mencair.
Satu Tahun
Tidak ada lagi yang tersisa dari tubuh Anda. Anda yang sewaktu hidupnya cantik, gagah, ganteng, kaya dan berkuasa, sekarang hanyalah tumpukan tulang-belulang yang menyedihkan. Jadi, apa yg mau disombongkan org sebenarnya?....
Ih, syereeem. Dan bener banget kata si TS, apa yang mau kita sombongkan. Kita ini hanya manusia, lahir dalam keadaan hina. Dari mani, tem!
Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata (An-Nahl: 4)
Kita datang ke dunia ga bawa apa-apa. Tumbuh jadi manusia yang biasa-biasa aja. Muka ga cantik-cantik amat, ga ganteng-ganteng amat, agama juga ga paham-paham amat. Kekayaan pun, Alloh juga yang memberi. Dan kita masih sombong?
Takut mati? Iya aku takut. Takut karena pasti suatu saat akan kualami yang namanya kematian. Waktunya saja yang masih ghoib.
...كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْت
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati... (Ali'Imron: 185)
Kenapa takut? Bukannya mati itu pasti? Iya betul sih! The thing is bawa bekal apa aku kesana nanti? Apakah amalanku cukup untuk kutukar dengan surga. Kan setelah mati, hanya ada dua tempat, surga dan neraka. Kalau amalan kita cukup buat masuk surga, alhamdulillah.
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (AlBaqoroh: 25)
Lah kalo engga (naudzubillahimindzalik)? Perkara amalan kita engga cukup buat masuk surga ga cuma selesai begitu aja. Kalo amalan kita ga cukup untuk masuk surga bukan kemudian kita ga masuk surga, terus bar, selesai gitu aja. "Yah, aku engga dapet surga, yaudahlah," bukan seperti itu, tem-tem. Mending kalo kita bisa milih, misal kita merasa ga pantas di surga gitu, karena amalannya kurang, kita kemudian minta, "Ya Alloh, saya gapapa deh, ga dapat surga, tapi jangan dimasukin ke neraka, ya Alloh,". Tapi gabisa dong. Masalahnya, ya itu tadi, karena di akhirat cuma ada dua tempat, surga atau neraka. Kalo engga kebagian surga, otomatis dilempar ke neraka, ngga bisa di tengah-tengahnya.
Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. (Al Mu'minun: 104).
Nah, renungan ini jangan direnungin aja. Ayok, kita ibadah yang banyak, cari ladang pahala sebanyak-banyaknya, apalagi masi ada lima hari Romadhon! Semangat!!!
p.s. Alhamdulillahi jazakallohu khoiro to Arif S. untuk ralat ayat Annahl di atas.
Seperti biasa, aku berdiri di depan kaca jendala itu dan memandang jauh menatap keramaian di sekelilingku. Secara tak sengaja penglihatanku teralihkan oleh pasangan kekasih yang kebetulan sedang melintasi jalanan itu. Menurutku mereka bukanlah pasangan suami istri, terlihat dari wajah si pria yang masih muda...kurang lebih sepantaranlah dengan aku...dan juga si gadis yang mengenakan seragam SMA. Mereka terlihat romantis, mereka saling berpegangan tangan, tertawa bersama. Mereka saling mengasihi satu sama lain. Bahkan dalam angan ku mereka jauh lebih harmonis daripada pasangan yang sudah menikah. Maklumlah...kedua remaja itu sedang tergila-gila oleh asmara.
Sering kali kebanyakan orang (mungkin juga aku) ketika telah saling mencintai maka semua yang ada pada orang yang kita cintai akan terlihat begitu indah. Semua tingkah laku, tutur kata, wajah, bahkan namanya saja akan terlihat “wah” dalam benak kita. Apapun itu...yang penting dengan si dia maka akan terasa begitu menyenangkan. Bahkan dalam nasihat di suatu pengajian, tidak jarang para penasihat yang menggambarkan, “ketika ngaji kita hanya melihat sandalnya saja, ooo...hati ini rasanya langsung mak nyess, degdegser ra karuan.” Bayangkan...itu hanya sebatas melihat sandalnya, belum melihat orangnya. Itulah mengapa salah seorang temanku kurang setuju bila orang mengatakan bahwa “cinta itu buta”, tapi menurut dirinya “cinta itu tidak buta, tapi mematikan logika”.
Ketika si pria meminta bantuan pada si gadis, maka dengan hati yang gembira si gadis akan membantu.
Ketika si pria menasihati pada si gadis, maka si gadis akan mematuhinya.
Ketika si pria mengeluh mengenai keadaannya, maka si gadis dengan sabar mendengar kesah keluhnya.
Begitu juga sebaliknya, ketika si gadis membutuhkan bantuan maka si pria akan selalu ada untuknya.
Sayangnya hal itu mereka lakukan ketika belum ada ikatan diantara mereka. Mereka belum menjadi suami istri. “Wah kalo belum jadi suami istri aja udah romantis kaya gitu, apalagi kalo udah jadi suami istri....tambaaah romantis”. Mungkin ada sebagian yang akan berpikiran demikan. Tapi kenyataan tidak selalu sejalan dengan apa yang kita pikiran. Setahun, dua tahun, tiga tahun mungkin kondisi diatas masih bisa kita rasakan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, saat kita sudah mengenal sifat satu sama lain mungkin kondisi diatas lama-kelamaan akan memudar. Ketika belum menikah seakan-akan si gadis sangat “toat” kepada si pria. Si gadis selalu menurut dengan nasihat yang diberikan si pria, si gadis selalu bertutur kata baik dihadapan si pria dan masih banyak lagi. Tapi ketika sudah menjadi pasangan suami istri ada kalanya yang namanya ketoatan seorang istri terhadap suami akan berkurang. Bahkan yang pernah aku jumpai, jangankan untuk toat pada suami, hanya sekadar tersenyum pun si istri enggan. Itulah mengapa dalam sebuah hadist dikatakan bahwa surganya istri itu ada pada toatnya dia pada suami, hal itu karena saking beratnya yang namanya sebuah ketoatan. Begitu pula sebaliknya, ketika belum menikah si pria berjanji pada si gadis akan setia sehidup semati, berjanji akan selalu menjaganya, dan masih banyak lagi rayuan-rayuan gombal yang dia lontarkan. Tapi setelah menikah, masakan kurang enak marah, rumah belum bersih muring-muring, anaknya nangis malah dibentak-bentak. Naudzubillahimindzalik...Sungguh ironis, tidak seperti saat mereka sedang ta’aruf, saat mereka masih dibuai oleh asmara, saat “cinta mematikan logika” mereka.
Trus gimana dong? Berati kita ga usah mencintai seseorang.
Mencintai seseorang itu boleh-boleh saja. Memang itulah tujuan Alloh menciptakan laki-laki dan perempuan yaitu itu saling mencintai dan mengasihi. Asalkan dalam mencintai dan mengasihi seseorang, kita masih dalam batas yang wajar dan bukan mencintai karena hawa nafsu. Janganlah mencintai seseorang berdasarkan logika tapi pakailah hati untuk mencintai seseorang. Karena cinta tidak bisa melemahkan keimanan di dalam hati, tapi cinta akan menguatkan keimanan kita kepada Alloh.
Dari Anas r. a. dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda “Ada 3 perkara, barang siapa yang 3 hal itu ada pada dirinya, maka ia akan menjumpai manisnya keimanan. Yaitu jika ia lebih mencintai Alloh dan Rosul-Nya ketimbang mencintai keduanya, jika dia mencintai pada seseorang dimana dia mencintainya dengan niat karena Alloh, dan dia benci apabila kembali pada kekafiran sebagaimana benci dia bila dimasukkan ke dalam neraka.”
Ingatlah...Ketika seseorang yang kita cintai ternyata nantinya memang jodoh kita, maka tanpa rayuan-rayuan gombal pun nantinya dia juga akan menjadi milik kita. Hakikatnya jodoh itu akan selau mendekatkan diri kita pada Alloh karena pada dasarnya jodoh adalah pemberian dari Alloh. Maka ketika kita dekat dengan jodoh kita, seharusnya kita juga merasa lebih dekat dengan Alloh. Oleh karena itu, masalah jodoh mintalah dengan baik-baik pada Alloh.
Semoga Alloh memberikan manfaat dan barokah.
Romadhon 1432H
Ditengah keluarga yang harmonis
Cross-posting "Logika, Cinta, dan Hati"
disalin tanpa perubahan