Jannati Wannar

Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." (Q.S. Al-A'raf: 43)

Iman

Sebab iman adalah tambatan hati yang menggema ke dalam seluruh ucapan dan laku perbuatan.

Quran Beloved

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Al A'raf:52)

Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Trilemma Mahasiswa: Good Grades dan Ajang Pembuktian



Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Teman-teman lihat gambar di atas kan? Trilema mahasiswa. Wah, saya tersinggung. Job saya dibawa-bawa. Why mahasiswa?
Yup, sebagai mahasiswa dengan seabrek kegiatan, kebutuhan, keinginan, kita diberi kesempatan oleh Allah untuk mencapainya dalam waktu 24 jam setiap sehari. Well, sebenarnya bukan hanya mahasiswa, ibu rumah tangga juga diberi waktu 24 jam sehari. Begitu juga dengan yang lainnya, Pak Pos, tukang gorengan, sales obat, sama saja. Nah, dari 24 jam itu apakah kita bisa mengambil manfaat yang menunjang cita-cita kita?

Dari sekian target dan keinginan, ada 3 hal utama yang menjadi incaran mahasiswa, nilai yang baik, pergaulan yang luas dan tidur yang cukup (aduh, yang ketiga ini mah saya banget). The things is, menurut gambar ini, saya dan kamu yang statusnya mahasiswa, cuma bisa memilih dua diantara tiga. Sebagai contoh, kalo mau jadi bintang cumlaude di kelas (good grades) sekaligus gaul dan beken di antara teman-temanmu (social life), kamu musti mengorbankan waktu istirahatmu. Artinya mau tidak mau kita harus mengorbankan salah satu.

Apa? Mengorbankan salah satu? Seriously? Terus, saya harus memilih yang mana dong? Daripada lebay-lebay kamseupay ga jelas, lebih baik kita bahas satu-satu saja yuk, mana yang lebih penting untuk kita. Apakah itu GOOD GRADES? Ataukah SOCIAL LIFE? Bagaimana dengan ENOUGH SLEEP? So, temenin saya ngobrol tentang Good Grades dulu ya!

Memang, tidak semua orang setuju kalau kepandaian seseorang diukur dengan IP, tapi kenyataannya, lebih banyak orang yang senang mendapat nilai A bukan, daripada A- atau B+ deh. Kita ambil contoh saja, tidak usah jauh-jauh, di kampus saya. Di sana, IP menjadi begitu penting karena bisa menjadi penentu apakah ia masih boleh 'bermain' di sana. IP bagus, silakan lanjutkan perjalanan Anda. IP tidak bagus, silakan angkat koper Anda. Dropped out. Naudzubillahi mindzalik.

 وَقَالَ عَلِىٌّ كَرَّمَاللهُ وَجْهَهُ مَنْ اَرَادَ الْدُنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَ الْاٰخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ. وَرُوِيَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ خُيِّرَ سُلَيْمَانُ بَيْنَ الْمَالِ وَالْمُلْكِ وَالْعِلْمِ فَاخْتَارَ الْعِلْما فَاعُطِىَ الْمُلْكَ وَالْمَالَ لِاخْتِيَارِهِ الْعِلْمَ   *  ر.ابن عساكر


Dan ‘Ali (yang Allah telah memberi kemuliaan pada wajahnya) berkata, ‘Barang siapa yang menghendaki pada dunia, maka supaya mencarinya dengan ilmu, barang siapa yang menghendaki akhirat, maka supaya mencarinya dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat), maka supaya mencarinya dengan ilmu,’. Diriwayatkan dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, ‘Nabi Sulaiman diperintah (Allah) untuk memilih antara harta, kerajaann dan ilmu. Nabi Sulaiman memilih ilmu. Maka Nabi Sulaiman diberi kerajaan dan harta karena memilih pada ilmu. (khotbah hal.61)

Teman-teman, kita telah memiliki target untuk menjadi seorang profesional yang religius bukan? Untuk dapat dikatakan profesional kelak, kita harus memiliki ilmunya. Dan untuk menjadi seorang mubaligh/mubalighot, itu pun harus dengan ilmu (yaiya lah). Maka pada akhirnya, untuk mendapatkan ilmu tersebut, kita memang harus berproses.

Untuk menjadi seorang arsitek, seseorang harus meluangkan waktunya untuk kuliah dengan baik di bidang itu. Tidak hanya sekadar datang ke ruang kuliah, isi absen, selesai, pulang. Ia juga harus meluangkan waktunya untuk mengerjakan tugas yang diberikan dosen. Ia pun terkadang harus meluangkan waktunya untuk mengalami salah, mengulang kembali hingga ia semakin memiliki ilmu di bidang yang ia tekuni.
Begitu juga dengan seseorang yang ingin menjadi mubaligh/mubalighot, atau minimal paham agama (tidak menjadi mubaligh/mubalighot). Ia harus meluangkan waktunya datang ke masjid, belajar Alquran dan Alhadits, mendengarkan nasihat, dan berbagi pengalaman dengan teman-teman yang lebih paham.

Dari perspektif psikologi, manusia pada dasarnya senang dipuji (iya nggak?), haus akan penghargaan, lapar dengan pembuktian dan aktualisasi diri. Kaitannya dengan kesibukan kita sebagai mahasiswa, tentu saja penghargaan itu bisa dicapai kalau kita punya IP yang, well, setidaknya mencapai angka tiga koma. Bukan hanya sekadar selamat dari ancaman drop out atau sejenisnya.Minimal setidaknya kita dapat dengan bangga menunjukkan pada orang tua atau teman-teman, 'ini lho, IP aku segini'.

So, kita memang butuh apa yang dimaksud good grades itu. Terlepas dari faktor dosen, faktor keberuntungan, dan sebagainya, good grades bisa menjadi pembuktian atas ilmu yang ia miliki. Maka kita jangan sampai beralasan kalau kita tidak bisa punya good grades karena ingin memiliki “social life” dan “enough sleep”. Setuju?

Di kesempatan lain selanjutnya insya Allah kita akan ngebahas penting gak sih social life dan enough sleep buat kita. Just cekidot aja ya! Sampai jumpa, Assalamualaikum. :D

Life is Short

Hidup itu singkat,
kesempatan tak datang setiap saat,
pengalaman adalah guru terbaik,
dan bersikap adil itu sangat sulit.

-Hippocrates (460-370 SM)

Jadi Akhwat Jangan Genit

Jadi Akhwat Jangan Genit
Pakai bedak kok sampe enam lapis
Maunya sih biar kelihatan manis
Belum lagi minyak wangi yang seember
Apalagi tujuannya kalau bukan biar para ikhwan lumer



Semua untuk Allah

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Dua hari yang lalu, saya dan keluarga berkesempatan mengunjungi Kompleks Candi Prambanan. Alhamdulillah, walau sempat hujan lebat, kami tetap dapat menikmati pemandangan di sana.
Sementara ibu dan adik-adik masuk ke dalam candi, kalau tidak salah ke Candi Apit, saya mengambil beberapa gambar. Saya kemudian melihat bapak hanya terdiam memandangi Candi Siwa, candi terbesar di kompleks candi. Saya pun mendekati beliau dan memasang wajah, "why so serious?"


Menentukan Sekali!

Ini bukan tentang pembelaan.
Bikin salah itu biasa, wajar, apalagi sebagai manusia. Salah membaca resep makanan, salah memanggil seseorang, bahkan salah ketika menyampaikan kebenaran.
Tergesa-gesa, ceroboh, salah paham, dan seribu satu alasan sebenarnya bisa dimaafkan, tapi dengan satu syarat: ketika segala usaha, pengorbanan atau upaya daya sudah kita lakukan. All out. Sakpol kemampuan. 


Sekali adalah kekhilafan. Dua kali, tiga kali dan seterusnya adalah kebiasaan. Bila ada niat baik yang ternoda kesalahan, tandanya kita belum sakpol kemampuan, belum all out, belum jor-joran.
Jangan khawatir. Bukan penghinaan , bukan pula sesuatu yang memalukan, ini adalah kesempatan—lebih tepatnya piihan. Menentukan sekali, jalan di tempat atau melangkah ke depan.
Hup hup!

Belajar dari Mujahidah Senja

Oleh: Miftahul Jannah
4 Mei 2006 06:06 WIB

Jika gelap datang tiba-tiba
Ketika kita telah begitu terbiasa dengan cahaya terang-benderang
Sebijak apakah kita menyikapinya?


Saya sebenarnya tidak terlalu mengenalnya dengan baik, ya… tidak sebelum dia benar-benar menginspirasi saya. Dia adalah kakak angkatan saya. Tidak banyak aktivitas bersama yang pernah kami kerjakan. Sekedar bahwa kami sama-sama kuliah di satu universitas, satu fakultas, satu jurusan, dan melibatkan diri di sebuah komunitas muslim fakultas, namun juga di bidang yang berbeda.

Akwat Sejati

Seorang gadis cilik bertanya pada Ayahnya
“Abi…ceritakan padaku tentang Akhwat Sejati”
Sang Ayah pun menoleh dan tersenyum seraya menjawab


Akhwat Sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dari

Saudariku, Ayo Berhijab!


Aku mendapatkan gambar ini dari seorang teman. Aku sangat berterima kasih padanya karena ia begitu peduli dengan wanita, khususnya cara kami berpakaian. pertama kali melihat gambar itu, aku tertawa. Itu loh, visualisasi wanita yang tidak berhijab. Lucu sekali penggambarannya, bahkan di situ digambarkan sambil bergaya, berbeda dengan gambar wanita berhijab yang berdiri dengan sopan. Gambar itu benar-benar jujur, menggambarkan realita yang ada bahwa masih banyak teman-teman kita yang masih berpakaian seperti itu.
Tapi yang bikin gambar itu sangat lucu buatku, aku seperti melihat diriku beberapa tahun yang lalu. Sebenarnya orang tua telah mengajarkanku berpakaian yang benar sesuai syariat. Ibuku memberi contoh dengan menggunakan pakaian yang benar juga. Beliau selalu memilih dan memakai pakaian yang longgar. Yaa, walaupun beliau tidak menyukai rok, beliau selalu memastikan memakai celana panjang yang lebar dan tidak ketat. beliau juga memakai blus yang panjang menutupi paha. Sementara Bapak, semenjak aku memutuskan untuk berjilbab ketika kelas 4 SD, bapak selalu membelikanku pakaian yang pantas dan sesuai syariat: longgar dan tidak menerawang. Beliau bahkan tak jarang menyertaiku ketika aku hendak membeli pakaian baru.
Aku pun bertambah usia, dan seiring waktu berlalu, Bapak mungkin berpikir aku sudah dewasa, sehingga beliau tidak lagi menentukan pakaian-pakaian yang harus aku kenakan. Akulah sendiri yang harus menentukan sendiri. Awalnya kupikir itu tidak masalah, toh aku rasa aku tahu bagaimana cara berpakaian yang baik.
Tetapi ketika di SMA, sekitar kelas sebelas atau dua belas, aku diejek temanku karena pakaianku. Mereka bilang pakaianku kuno dan terlihat seperti bu-ibu. Mungkin karena pengaruh pergaulan, akhirnya aku mulai berani memakai celana jins ketat. Yaa walaupun aku masih memakai blus panjang yang menutup paha. Kadang-kadang aku sendiri merasa tidak nyaman dengan pakaian itu, tapi aku sungguh benci diejek teman-teman karena pakaianku. Benar-benar aku telah menjadi korban mode.
Tapi semuanya berubah ketika aku lulus danpindah ke lingkungan yang baru. Aku berkenalan dengan seorang teman yang pakaiannya islami, longgar, ia selalu menggunakan rok panjang. Suatu hari ia pernah berkata, kalau kita tidak dapat menjaga aurat kita, maka itu akan menimbulkan dosa bagi diri kita sendiri dan bagi orang yang melihatnya.
Dari situ aku menyadari pentingnya berhijab, menutup aurat, dan itu adalah sebuah keharusan. Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti mengapa Ibu dan Bapak begitu cerewet dalam mengatur urusan berpakaian kami, anak-anaknya.
Sejujurnya, aku belum bisa dikatakan telah berhijab dengan sempurna seperti dalam gambar itu. Ya, aku Cuma punya satu gamis. Tapi aku berusaha berpakaian sesuai syariat. Aku tak lagi memakai celana jinsku yang ketat itu. Aku mulai memakai rok panjang yang dipadu dengan blus atau kaus yang longgar. Saat ini aku sedang mencoba menggunakan jilbab yang lebih lebar. Walau sempat ditertawakan dan diangap berlebihan, aku tetap ingin melakukan apa yang menurutku benar.
Aku sungguh berterima kasih pada orang tuaku, karena dengan didikan dan tuntunan mereka sedari kecil, aku tidak terlalu kesulitan untuk berusaha berhijab. Karena terbiasa, barangkali. Juga pada temanku yang mengigatkanku pentingnya menutup aurat. Sungguh suatu nikmat dari Allah aku dipertemukan dengan teman-teman yang begitu baik dan membawa kebaikan.
Saudariku, mungkin kalian menganggap ini berlebihan. Tapi semua yang kulakukan saat ini tak lebih bahwa aku ingin menutup aurat seperti yang Allah ajarkan pada kita. aku ingin jadi muslimah sejati, dimulai dari cara berpakaian kita. Aku lebih bahagia kalau kalian pun memiliki pikiran yang sama sehingga kita bisa mencapai surga bersama-sama pula.

See translation on this page.

Eight Conditions of Muslimah Wearing

In one chance of recitation, I was told that there are eight conditions women have to do in dressing as muslimat. From the picture I’ve shown you before, we know seven conditions. They are as below.


  1. Clothing must cover the entire body, only the hands and face may remain visible.
  2. The material must not be so thin that one can see through it.
  3. The clothing must hang loose so that the shape/ form of the body is not apparent.
  4. The female clothing must not resemble the man’s clothing.
  5. The design of clothing must not resemble the clothing of the non believing women.
  6. The design must not consist of bold design which attract attention.
  7. Clothing should not be worn for the sole purpose of gaining reputation or increasing one’s status in society.
One additional condition is that the clothing must not be given any fragrant which can attract one who smells it.
Next time, Insha Allah I will give you verses of Quran and hadiths which underlie those condition.

Keep istiqamah! :D

Sisters, Let's Get Hijab!



I got this picture from my friend. I really thank to him because he really cares 'bout women, especially women's clothing and appearance. I first laughed when I saw this picture. The picture of three girls not in hijab, that's really funny. Even the picture shows that the girls pose like models. That picture "tells" the truth, the fact that there are so many girls still get dressed like that.
But what makes it really funny to me is because I see my self some years ago. Actually, my parents teach me to dress as well as muslimat should dress. My mother always use loose clothes. Well, she doesn't like using long skirt, she likes using trousers but she always makes sure that they're loose. She also uses blouses which are long and cover thigh.
My father, since I decided to use jilbab when I was in fourth grade, he used to buy me appropriate dresses: loose and not thin. He often accompanied me when I want to buy clothes.

Tahan Uji

Jalan yg mulus dan lurus takkan menghasilkan pengemudi yg hebat.
Laut yg tenang takkan pernah menghasilkan pengemudi yg tanggu.
Langit yg cerah takkan pernah menghasilkan pilot yg handal.
Hidup yg tanpa masalah takkan pernah membuat orang menjadi kuat.
Karena itu, jadilah orang yg handal dan tahan uji dalam menerima tantangan hidup..!!
Allah menjadikan jalan hidupmu berbelok dan tidak mulus. Ada gelombang persoalan yg menghantam, langit yg kelam dan penuh awan serta badai..
Semua itu dibuat-Nya supaya engkau menjadi handal dan tahan uji dalam menghadapi hidup ini...
Maka,, Semangatlah...!!!!

share dari : Istri Sholihah

Are You Moslem? Then Recite!

English Version of this post

In this life, we are often overwhelmed by the questions, how to live this life, how to run the religion as a Muslim. Well' it's natural as human being. We as human beings who expect the face of his Lord will certainly make every effort to do as God wants. And that's why God sent down the Qur'an as a guide and the Prophet Muhammad has left hundreds guidance recorded in the Hadith.

After the Great Prophet's gone, the differences begin to arise. The latest is the discussion between me and my friend about the law of collective sacrifice.

Sampeyan Muslim? Ngaji!

Dalam hidup ini, kita sering diliputi pertanyaan-pertanyaan, bagaimana menjalani hidup ini, bagaimana menjalankan syariat agama sebagai seorang muslim. Ya, itu wajar. Kita sebagai manusia yang mengharapkan wajah Tuhannya pasti akan berusaha semaksimal mungkin berbuat seperti yang Tuhan mau. Dan untuk itulah Allah menurunkan Alquran sebagai petunjuk dan Nabi Muhammad telah meninggalkan ratusan tuntunan yang tercatat dalam hadits-haditsnya.

Selepas kepergian Nabi, mulailah timbul perbedaan-perbedaan. Yang paling dekat, diskusi antara aku dan temanku mengenai hukum kurban secara kolektif adalah salah satunya. 



Sebenarnya, masalah itu tidak perlu diperdebatkan, karena hukumnya sudah jelas. Aku juga telah memberi penjelasan mengenai hal tersebut di postinganku sebelumnya. Aku sangat menyayangkan kalau ada pihak yang secara tidak bertanggung jawab langsung menghukumi sesuatu tanpa berpegang pada dalilnya. Punya dasar apa mereka menghukumi sesuatu.


وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَـٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا 


Dan janganlah kamu mengikuti (mengerjakan) apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.  (Al-Israa': 36)

Agama islam itu bukan sekadar Question and Answer, bukan sekadar “bolehkah begini, bolehkah begitu”, “apakah hukumnya?”, “bagaimana hukumnya”, “wajib atau tidak”. Islam bukan seperti itu. Islam memiliki hukum-hukum yang mengatur segala sesuatunya.



Lantas, bagaimana kita bisa mengetahui hukum-hukum tersebut? Ada tiga: ngaji, ngaji, ngaji! Satu-satunya cara adalah kita harus mencari ilmu, bukan mencari, menuntut malah! Tentunya sumber yang paling valid, yang paling sah, dan terlengkap adalah Alquran dan Alhadits, bukan kitab karangan, buku-buku, atau jawaban-jawaban yang tidak menyertakan dalil atas pertanyaan-pertanyaan yang sering kita ajukan.



Dari ‘perdebatan’ itu, aku semakin yakin akan pentingnya mengaji Alquran dan Alhadits. Dengan mengaji, kita benar-benar mengetahui asal muasal suatu hukum dan bagaimana hukumnya. Andaikata aku tidak mengaji, tentu aku jadi ragu, apakah ibadahku sudah benar atau belum, dan mungkin aku akan percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan temanku. Tapi karena aku mengaji, aku yakin dan khusnudzonbillah bahwa ibadahku benar, sah, dan akan mendapat pahala yang Alloh janjikan pada hamba-hambaNya.



Satu lagi pentingnya mengaji. (Lagi) Aku ambil contoh diskusi dengan temanku mengenai qurban beberapa waktu lalu. Sebenarnya, temanku itu tidak seratus persen salah ketika mengatakan bahwa qurban kolektif itu tujuh orang untuk berqurban sapi, sepuluh orang untuk berqurban unta. Itu pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW, tapi bukan menjadi hukum bahwa qurban patungan maksimal harus sekian, sekian, atau sekian. Tapi sepertinya ia hanya sepotong-sepotong mengartikan hadits tersebut tanpa melihat bagaimana riwayatnya. Atau ia hanya membaca potongannya saja. Nah di sinilah pentingnya mengaji dengan cara manqul, musnad, muttasil. Kita akan mendapatkan semuanya secara komplit, mulai dari penjelasannya, teknisnya, larangannya, aturan-aturannya, lengkap. Kalau kita hanya mengetahui sepotong-sepotong, maka penafsirannya akan berbeda, contohnya, ya masalah qurban kolektif itu tadi, iya kan?


 يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِير


Niscaya Allah akan mengangkat derajat pada orang-orang yang beriman dari golongan kalian dan orang-orang yang diberi ilmu. Adapun Allah  tu waspada terhadap apa-apa yang kalian kerjakan. (AlMujadilah: 11)

Itulah mengapa, berulang kali kusiarkan pada teman-teman, ngaji yuk! Ayo kita mengaji Alquran dan Alhadits. Dengan mengaji Alquran dan Alhadits, kita akan mendapat kepahaman, kita jadi tahu mana yang benar, mana yang salah. Kita tidak akan terbawa arus, terbawa dengan pemikiran orang-orang karena jalan yang benar sudah ditunjukkan dalam Alquran dan Alhadits.

Kalau mengaku orang islam, tapi tidak mengaji, tidak mengetahui hukum-hukum agama Islam, apakah tidak malu pada Allah, Rasulullah, dan semua ciptaanNya?

Find the Answers, Search The Truth

Sometimes I quest,

“Why am I tried?”

Bila Al Qur'an bisa bicara!

 وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا أُولَـٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya." (QS Al A'raaf [7] : 36).

 Bila Al Qur'an bisa bicara!

 Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
 Dengan wudu' aku kau sentuh dalam keadaan suci
 Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari
 Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
 Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra

 Sekarang engkau telah dewasa...
 Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku...
 Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah...
 Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu
 Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?

 Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya
 Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
 Kadang kala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa
 Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan
 Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian
 Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.

 Dulu...pagi-pagi...surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman
 Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau.....
 Sekarang... pagi-pagi sambil minum kopi...engkau baca Koran pagi atau nonton berita TV
 Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia
 Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.
 Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan...

 Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surah2ku (Basmalah)
 Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
 Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu
 Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
 Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku

 Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja
 Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu
 Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun
 E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan
 Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu
 Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku

 Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga
 Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk
 Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah

 Waktupun cepat berlalu...aku menjadi semakin kusam dalam lemari
 Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
 Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali
 Itupun hanya beberapa lembar dariku
 Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu
 Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.

 Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan?
 Bila engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba
 Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhanNya
 Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selama melaluinya.

 Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu...
 Setiap saat berlalu...kuranglah jatah umurmu...
 Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..
 Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
 Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.

 Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati...
 Di kuburmu nanti....
 Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan
 Yang akan membantu engkau membela diri
 Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu
 Dari perjalanan di alam akhirat
 Tapi Akulah "Qur'an" kitab sucimu
 Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu

 Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari
 Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
 Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui
 Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.

 Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu...
 Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
 Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
 Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu

 Sentuhilah aku kembali...
 Baca dan pelajari lagi aku....
 Setiap datangnya pagi dan sore hari
 Seperti dulu....dulu sekali...
 Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos...
 Di surau kecil kampungmu yang damai

 Jangan biarkan aku sendiri....
 Dalam bisu dan sepi....

 "Utamakan SELAMAT dan SEHAT untuk duniamu, Utamakan SHOLAT dan ZAKAT untuk akhiratmu"

 Anda ingin menjadi DA'I SEJUTA E-MAIL, tolong anda kirimkan artikel ini kepada sesama muslim, baik keluarga, sahabat dan siapapun yang anda kenal atau silakan cetak untuk bacaan keluarga di rumah. Terima kasih

 Billahit-taufiq wal-hidayah

 Wassalamualaikum wr.wb

 Anang M Yusuf
 General Affairs Division
 PT. Ericsson Indonesia


Filosofi Huruf O

O kepanjangan dari OPPORTUNITY,

berarti kesempatan atau peluang.
Pada kata YESTERDAY tidak ada huruf O, berarti yang kemarin sudah tidak memiliki kesempatan lagi.

Pada kata TODAY terdapat huruf O, jadi hari ini masih ada kesempatan untuk kita.

Pada kata TOMORROW, terdapat banyak huruf O, jadi masih banyak kesempatan di hari esok untuk kita lebih maju dan lebih baik.

    • Popular
    • Categories
    • Archives