Jannati Wannar

Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." (Q.S. Al-A'raf: 43)

Iman

Sebab iman adalah tambatan hati yang menggema ke dalam seluruh ucapan dan laku perbuatan.

Quran Beloved

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Al A'raf:52)

Showing posts with label Parents. Show all posts
Showing posts with label Parents. Show all posts

Bila Belum Saatnya

“Saya bingung, Om. Orang tuanya mendesak saya untuk segera menikah dengan dia,” ujar Rudi kepadaku. Nampaknya ia sedikit cemas dengan masalahnya.
Aku menyentuh janggutku yang sedikit lebat, diam menyimak cerita keponakanku.

“Mereka takut anaknya patah hati atau bagaimana. Ya saya sih oke-oke aja, Om. Tapi Mami inginnya saya jangan terburu-buru menikah. Saya juga baru lulus,” lanjutnya

Aku membenarkan posisi dudukku, “Kamu mau denger pendapat Om?”

Rudi menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil, “Saya kan kesini emang ingin denger masukan dari Om,”
Aku menghela nafas, “Harusnya masalah seperti ini nggak perlu terjadi,”.

Petunjuk Allah Saja


“Halo, Kak!” aku berkata setelah istriku Naina memberikan telepon padaku. Aku meletakkan sendok dan menyudahi makan siangku.
Sebuah suara manja di seberang sana berseru menjawabku.
Pa, Jani ganggu Papa, nggak, nih?”
Aku meneguk segelas air yang telah disiapkan istriku, “Enggak, Papa baru selesai makan, nih.”
Papa sehat?”
“Alhamdulillah, Papa sehat, Mama juga,” aku melirik sekilas istriku yang memberi isyarat untuk memberikan gagang telepon padanya, “Mau bicara sama Mama?”
Enggak, Pa, tadi pagi sudah ngobrol panjang sama Mama,
Aku terbahak, “Nggak mau katanya, Ma,”. Aku mengedip genit pada istriku yang pura-pura ngambek.
“Kenapa kak?” tanyaku pada Janita, putri sulungku.

Hati-hati, Durhaka pada Orang Tua!


Spesial untukku, adik-adikku, dan semua anak yang mencintai kedua orang tuanya.

Ingat dengan kisah Malin Kundang? Kisah tentang anak yang menjadi batu sebab tidak mengakui ibundanya yang miskin. Di masa taman kanak-kanak dulu, saya dan teman bergidik ngeri ketika mendengar ceritanya dari Ibu Guru. Saya juga pernah mendengar cerita serupa, Batu menangis. Saya mengetahuinya dari majalah yang setiap bulan dibelikan Bapak ketika pulang kantor kala itu. Ceritanya hampir sama, tentang anak yang menyebut ibunya sendiri pembantunya. Dengar-dengar batunya masih ada hingga saat ini di suatu tempat di Kalimantan Barat.

Dari cerita-cerita yang ada, saya menyimpulkan sendiri kalau anak yang durhaka itu anak yang tidak mengakui orang tuanya, atau anak yang bersikap kasar pada orang tua, bentuknya seperti menghardik, membentak, menendang orang tua, seperti ilustrasi yang ada di majalah.


Namun sejalan dengan usia saya yang semakin tua *eh*, saya menemukan bentuk-bentuk baru yang menurut saya bisa dikatakan durhaka terhadap orang tua. Apa saja itu?

    • Popular
    • Categories
    • Archives