Jika Anda ditanya siapa penemu benua Amerika? Tentu jawaban yang terlintas adalah Columbus. Pria penjelajah dari Spanyol yang lahir di tahun 1451 dan memiliki nama lengkap Christopher Columbus ini oleh para siswa dan guru sangat dikenal sebagai pelaut dan pedagang yang pertama kali menemukan benua tersebut. Namun apakah itu benar? Ternyata tidak.
Showing posts with label Ilmuwan Muslim. Show all posts
Showing posts with label Ilmuwan Muslim. Show all posts
Ilmuwan Islam Peletak Dasar Konsep Pesawat Terbang
Pada abad ke-8, seorang Muslim Spanyol, Abbas Ibnu Firnas, telah menemukan, membangun, dan menguji konsep pesawat terbang. Konsep pesawat terbang Ibnu Firnas inilah yang kemudian dipelajari Roger Bacon lepas 500 tahun setelah Ibn Firnas meletakkan teori-teori dasar pesawat terbang.
Sekitar 200 tahun setelah Bacon atau 700 tahun pascaujicoba Ibnu Firnas, barulah konsep dan teori pesawat terbang dikembangkan. Pada tahun 875, Ibnu Firnas membuat sebuah prototipe atau model pesawat terbang dengan meletakkan bulu pada sebuah bingkai kayu. Inilah catatan dokumentasi pertama yang sangat kuno tentang pesawat terbang layang.
Sekitar 200 tahun setelah Bacon atau 700 tahun pascaujicoba Ibnu Firnas, barulah konsep dan teori pesawat terbang dikembangkan. Pada tahun 875, Ibnu Firnas membuat sebuah prototipe atau model pesawat terbang dengan meletakkan bulu pada sebuah bingkai kayu. Inilah catatan dokumentasi pertama yang sangat kuno tentang pesawat terbang layang.
Ibnu Ismail Al Jazari – Ilmuwan Muslim Penemu Konsep Robotika Modern
Al Jazari mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot.
Al Biruni (Tamat)
Hukum Al-Mas’udi
Tahun 1030 Masehi, Sultan Mahmud Al-Ghaznawi wafat. Ia meninggalkan untuk ananknya, Sultan Mas’ud, Negara yang luas, yang mencakup Afghanistan, Persi, Khawarizmi, Zayarin dan India Utara. Negara yang membentang seribu mil dari utara ke selatan dan melebar seribu mil dari barat ke timur.
Sultan Mas’udi kebalikan dari ayahnya, adalah tokoh yang toleran terhadap pecinta ilmu dan menghargai para ilmuwan. Ia adalah sahabat karib Al-Biruni, semenjak bertemu dengannya di Ghaznah 12 tahun yang silam. Kondisi Negara Al-Ghaznawiyah sudah stabil. Sultan yang baru mengizinkan Al-Biruni untuk menengok tanah airnya yang pertama di Khawarizmi.
Al Biruni (Episode 5)
Pengembaraan ke India
India adalah suatu negeri di Benua Asia. Keadaannya penuh dengan simpanan budaya. Banyak pakar meminati negeri ini untuk dijadikan ajang penelitian. Baik falsafahnya, seni, bahasa, dan gaya hidup masyarakatnya. Al-Biruni termasuk orang yang sejak awal melirik India sebagai bahan tulisan ilmiahnya. Semuanya terasa lengkap ia tuturkan. Buku itu pun siap menjadi bahan acuan.
Sampailah waktu yang sangat ditunggu-tunggu Al-Biruni, ketika Sultan MAhmud memanggilnya ke kota Ghaznah.
“Wahai Biruni,” titah Sultan Mahmud, “kau temani kami dalam perluasan ke India!” demikian awal pembicaraan antara Sultan dengan Al-Biruni. Duhai, Sultan itu tak lagi ingat akan sikapnya semula.
“Catatlah untuk informasi kami apa saja yang belum diketahui orang islam mengenai India; baik sejarah, negeri, peradaban, kepercayaan, Adat, keadaan geografis, sungai, dan gunung-gunungnya. Sebab dakwah Islam tidak akan sampai menyebar ke India dan mustahil diterima masyarakatnya kecuali berbekal pengetahuan tentang itu semua!” instruksinya lagi.
Al Biruni (Episode 4)
Baju Kebesaran Khalifah
Sampai pula waktunya Al-Biruni benar-benar terlibat dalam masalah politik. Bermula dari Al-Amir Al-Ma’mun mengadakan perkawinan dengan saudara perempuan Sultan Mahmud Al-Ghaznawi. Dia adalah pewaris tahta kerajaan As-Samaniah dan pendiri Ghaznawiyah. Berkat hubungan perkawinan ini, Al-Ma’mun berusaha membatasi kekuasaan agar kerajaan Khawarizmi yang ia pimpin tidak tunduk kepada kerajaan Ghaznawi baru (sekarang Kabul) bila suatu ketika terjadi penekanan.
Pada tahun 1014 M, Khalifah Al-Qadir Al-Abasi Al-Ma’mun di Bagdad menganugerahkan gelar syah (raja) kepada Al-Ma’mun. tentu saja anugerah dari pemerintah pusat tersebut membaggakan Al-Ma’mun. Namun di balik itu terselib juga rasa was-was akan akibat gelar yang ia sandang. Kemungkinan akan terjadi iri hati dari pihak Sultan Mahmud Al-Ghaznawi, iparnya.
Al Biruni (Episode 3)
Undangan Ke Jurjani
Sangat kerasan ia berada di kota Bukhara, berada dalam lingkungan pakar dan ilmuwan. Dengan banyak kerja sama dengan mereka dan tukar pikiran, kematangan otaknya, semakin meningkat. Demikian betah Al-Biruni berada di kota ini. Hingga suatu ketika ia mendapat tawaran untuk bekerja sama dengan Amir (pemimpin) Syamsul Ma’ali Qobus bin Wasykamir. Dia adalah seorang penguasa Az-Zayariyin, suatu kerajaan kecil yang berada di sebelah selatan Laut Qezwin.
Amir tersebut saat itu sedang terusir dari ibukota kerajaannya, Jurjani. Banyak kerajaan ketika itu saling bertikai, saling menumbangkan dan merebut wilayah kekuasaan. Demikian pula kiranya yang terjadi pada Az-Zayariyin. Angkatan bersenjata dalam kerajaan itu bergolak, membrontak terhadap amir Syamsul Ma’ali Qobus. Tentu saja sang Raja tidak tinggal diam. Ia mencari dukungan dari wilayah lain untuk mengusir para pemberontak. Dan satu kerajaan yang dapat diajak kerja sama untuk menumbangkan kekuasaan militer yang hendak meng-cup de’tat adalah Al-Manshur.
Al Biruni (Episode 2)
Meninggalkan Negara
Kerajaan Khawarizmi, tempat Al-Biruni menetap secara politis tunduk kepada kerajaan As-Samaniah. Sebagaimana kerajaan Zayariah yang terletak di sebelah utara Laut Qezwin. Kesultanan As-Samaniah berada di Bukhoro. Raja Nuh Ibnu Manshur As-Samaniah posisinya sangat mantap. Tak seorang raja pun berani menentang. Tetapi pernah pula mendapat pemberontakan dari suatu kelompok dengan memakai politik devide et empera.
Situasi dan kehidupan politik tidak menjadi minat Abu Raihan. Ia selalu sibuk membuat berbagai percobaan. Ia persiapkan sebuah alat perbintangan berbentuk lingkaran besar. Garis tengah lingkaran tersebut lebih dari tujuh meter, dibagi-bagi menjadi setengah derajad. Dengan alat tersebut ia hendak mengetahui letak geografis sebuah desa kecil yang terletak di antara kota Kats.
Al-Biruni (Episode 1)
Anak Yatim
Muhammad bin Ahmad, siapakah dia? Anak yatim yang biasa dipanggil ibunya, Abu Raihan. Mereka berdiam di daerah Biruni yang terletak di sekitar Kats, ibukota kerajaan Al-Khuzamah. Negara ini terbentang di Asia Tengah. Sebelah selatan dibatasi Laut Aral dan sebelah utara dibatasi Laut Qezwin. Kats ibukota yang telah kita sebut tadi berada di sebelah utara Sungai Jijun(sekarang Amudarya). Di dalamnya terdapat banyak bangunan yang mengagumkan; istana, masjid-masjid, dan berbagai pusat kegiatan keagamaan berdiri megah di sana.
Muhammad bin Ahmad atau Abu Raihan bersama ibunya berada di kota Biruni, suatu kota yang panas. Para pedagang lokal banyak pula bermukim di sini,juga para pedagang dari Cina, India, Yunani, serta Arab. Mereka lebih memilih kota Biruni sebagai kawasan dagang untuk menghindari pajak. Sebab di kota Kats setiap yang masuk membawa dagangan akan dikenai pajak yang sangat memberatkan mereka.
Abu Raihan memiliki kebiasaan sangat positif. Walau usianya masih kecil, perhatiannya terhadap alam telah tumbuh subur. Siang hari waktunya dihabiskan mengejar kupu-kupu, memperhatikan bunga-bunga ditaman atau di kebun. Dia bahkan suka berjalan-jalan memasuki hutan, mendaki bukit kecil dan melintasi padang pasir. Tiap kembali kerumah, ditangan si kecil ini telah tergenggam setangkai bunga. Ia letakkan bunga itu di gelas hingga harumlah rumah si miskin itu.
Al-Zahrawi, Ilmuwan Islam Penemu Berbagai Alat Bedah Modern
Ah, bangganya menjadi seorang muslim. Memeluk agama yang sempurna, tidak hanya memperhatikan masalah ukhrawi, tetapi juga duniawi, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan.
Tholabul 'ilmi faridlotun 'alaa kulli muslimin. Carilah ilmu. Begitulah Islam memerintah umatnya agar selalu mencari ilmu. Hasilnya, lahirlah ribuan ilmuwan muslim di muka bumi ini. Salah Satunya adalah Al-Zahrawi.
Selama separuh abad mendedikasikan diri nya untuk pengembangan ilmu kedokteran khususnya bedah, Al-Zahrawi telah menemukan puluhan alat bedah modern. Dalam Kitab Al-Tasrif, ‘Bapak Ilmu Bedah’ itu memperkenalkan lebih dari 200 alat bedah yang dimilikinya. Di an tara ratusan koleksi alat bedah yang dipunyainya, ternyata banyak peralatan yang tak pernah digunakan ahli bedah sebelumnya.
Tholabul 'ilmi faridlotun 'alaa kulli muslimin. Carilah ilmu. Begitulah Islam memerintah umatnya agar selalu mencari ilmu. Hasilnya, lahirlah ribuan ilmuwan muslim di muka bumi ini. Salah Satunya adalah Al-Zahrawi.
Selama separuh abad mendedikasikan diri nya untuk pengembangan ilmu kedokteran khususnya bedah, Al-Zahrawi telah menemukan puluhan alat bedah modern. Dalam Kitab Al-Tasrif, ‘Bapak Ilmu Bedah’ itu memperkenalkan lebih dari 200 alat bedah yang dimilikinya. Di an tara ratusan koleksi alat bedah yang dipunyainya, ternyata banyak peralatan yang tak pernah digunakan ahli bedah sebelumnya.
Al-Khawarizmi (780-846 M) (Matematikawan Muslim)
Ini dia tokoh favorit anak-anak olimpiade matematika!
Tokoh yang bernama lengkap Abu Ja’far Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi (780-846 M) ini merupakan intelektual muslim yang banyak menyumbangkan karyanya di bidang matematika, geografi, musik, dan sejarah. Dari namanyalah istilah algoritma diambil.
Lahir di Khawarizmi, Uzbeikistan, pada tahun 194 H/780 M. Kepandaian dan kecerdasannya mengantarkannya masuk ke lingkungan Dar al-Hukama (Rumah Kebijaksanaan), sebuah lembaga penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan yang didirikan oleh Ma’mun Ar-Rasyid, seorang khalifah Abbasiyah yang terkenal.
Subscribe to:
Posts (Atom)