Jannati Wannar

Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." (Q.S. Al-A'raf: 43)

Iman

Sebab iman adalah tambatan hati yang menggema ke dalam seluruh ucapan dan laku perbuatan.

Quran Beloved

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Al A'raf:52)

Ramadan Prep Guide for Busy People | Part 4: Clearing the Decks

So far, we've talked about preparing for Ramadan using the Sunnah of the Prophet ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) to get ourselves warmed up and ready to go for an all out 'ibadah assault in a few days.  We've also talked about planning and calendaring.  Could there possibly be anything else left to organize, prioritize, or calendarize?

Finish Up Last Minute Projects

We've spent a lot of time on our planners during this series – I hope you're making use of one outside of Ramadan.  Look at your non-critical projects and complete them to the furthest extent possible and close them until 'Īd.  If you're working out, it's time to go into maintenance mode and put your focus on 'ibadah.  If you can do more without compromising your 'ibadah, then go for it but remember 'ibadah is the ultimate goal this month.  Clean out your non-critical commitments and be focused.

Ramadan Prep Guide for Busy People | Part 3: Keeping on Track for 30 Days

The Secret Sauce of Successful People

Ramadan is known for its ups and downs.  Moonfighting arguments reach a fever pitch the days before Ramadan (magnified nowadays by social media), then drops like a rock once the fast begins.  Motivation for 'ibadah also peaks in the first few days like runners taking off at the beginning of a marathon, only to spiral downwards towards the middle, and only pick back up again in the last 10 days before the 27th night.
Rather than jumping up and down, we want consistent spirituality.  When the moonfighting starts, we consciously put shaytaan and our nafs on “unfollow” and we stop retweeting that spiritual muck.  We are calm before, during, and after Ramadan.  The same is true of our worship during.  It will increase, as it must, and it is consistent throughout as much as possible for all 30 days.  When it goes down post-Ramadan, it's a gentle drop rather than a frenetic effort to chuck all spirituality out the door post-''

Ramadan Prep Guide for Busy People | Part 2: Planning and Hitting Ambitious Goals Easily

It's great to have ambitious goals for Ramadan, but in order to achieve those goals, one must be able to deal with the challenges of Ramadan which include decreasing energy levels (from a combination of lack of food and sleep), decreasing enthusiasm in the middle of the month, and maintaining the rest of your commitments (work, school, kids, etc) while increasing the time commitment of your worship; and since you don't live in a vacuum, you have to reconcile your schedule with others who may depend on you for supporting them in their goals and vice versa.

Ramadan Prep Guide for Busy People| Part 1: Training Season

I'm all for uplifting messages that inspire us to put forth our best effort in worshiping Allāh subḥānahu wa ta'āla (glorified and exalted be He) during Ramadan.  However, in lands where people do not have the luxury of time and sleep post-suhoor, getting maximum benefit out of Ramadan requires a bit of doing before entering into the month full force.  With this in mind, the following is a series of posts covering:
Part 1 – Training Season:  The month of Ramadan can be as physical as it is spiritual, and the body needs time to adjust.  How can we “train” ourselves for the physicality of it beforehand?  What practices can we take from the Sunnah of the Prophet ṣallallāhu 'alayhi wa sallam (peace and blessings of Allāh be upon him) to help us?

Kunci

Membawa selusin bodyguard bukan jaminan keamanan. Tapi, tawadhu, ikhlas dan shodaqoh itulah kunci keamanan.

Obat dan vitamin bukan jaminan hidup sehat. Jaga lisan, jaga hati, dan pola hidup Islami itulah kunci hidup sehat.

Rumah mewah, mobil baru bukan jaminan keluarga bahagia. Saling mengasihi, menghormati dan memaafkan, itulah kunci keluarga bahagia.

Gaji tinggi bukan jaminan kepuasan hidup. Bersyukur, peduli dan saling berbagi, itulah kunci kepuasan hidup.

Kaya raya bukan jaminan hidup terhormat. Tapi, Jujur, sopan, murah hati dan menghargai sesama itulah kunci hidup terhormat.

Hidup berfoya-foya bukan jaminan banyak sahabat. Tapi, Setia-kawan, bijaksana, menghargai & suka menolong Itulah kunci banyak sahabat.

Kosmetik bukan jaminan kecantikan. Tapi, syukur, qona'ah, ramah dan rajin ibadah itulah kunci kecantikan.

Satpam & tembok rumah yang kokoh bukan jaminan hidup tenang. Tp husnuzhan, ikhlas dan tiada membenci, itulah kunci ketenangan.

Hidup kita itu sebaiknya ibarat "jam dinding" - dilihat orang atau tidak, ia tetap berdentak. Dihargai orang atau tidak ia tetap berputar. Diterimakasihi atau tidak ia tetap 'bekerja' dan memberi manfaat.

Kalau anda bilang anda susah banyak orang yang lebih susah dari anda & kalau anda bilang anda kaya banyak org yang lebih kaya dari anda...
Di atas langit msh ada langit.
Suami/istri, anak, jabatan, harta adalah titipan sementara. Pada akhirnya semua itu kan kita tinggal .

Terus belajar untuk bersyukur dan bersabar diri...
Nikmati Hidup dgn apa yang اللّه beri.

Karena anda tidak akan tahu kapan Sang Pemilik akan datang dan mengatakan pada anda "Ini saatnya PULANG!" Memaksa anda untuk meninggalkan apapun yang anda cintai yg anda banggakan.

sumber: Grup MTI Strugglers

Lebah Vs Lalat

Mengapa lebah cepat menemukan bunga?

Sedangkan lalat cepat menemukan kotoran?

Karena insting (radar) lebah hanya untuk menemukan bunga,
sedangkan insting (radar) lalat hanya untuk menemukan kotoran.

Lebah tidak tertarik pada kotoran. Sebaliknya, lalat tidak tertarik pada harum dan keindahan bunga.

Alhasil, lebah kaya akan madu yg banyak sekali manfaatnya, sedangkan lalat kaya kuman penyakit.

Mengapa sebagian orang menjadi jahat dan sebagian orang menjadi baik?

Karena orang jahat tidak tertarik pada hal-hal yang baik, sebaliknya bila ada hal-hal yang jahat, menyakitkan, gosip, bohong, permusuhan, mereka menjadi begitu bersemangat untuk menyebarkannya, mereka orang-orang yang mudah diprovokasi tanpa pikir panjang langsung bereaksi.

Orang baik tidak tertarik dan tak mau merespon akan hal-hal buruk, menyakiti, isu yang tak jelas, semua hal yang berbau kejahatan yang sekalipun dibingkai isu agama.

Apa yang dilihat akan menghasilkan apa yang dipikirkan, dan apa yang dipikirkan akan menghasilkan apa yang diperoleh.

Hidup ini sangat tergantung dengan hati dan pikiran.

Jika hati dan pikiran selalu negatif maka apa saja yang dilihat akan selalu negatif dan hasilnya adalah penderitaan...

Mulailah dengan hati dan pikiran yang selalu positif maka apa saja yang dilihat akan selalu positif dan hasilnya adalah kebahagiaan...

Ya Allah tuntunlah kami untuk senantiasa menebar kebaikan sehingga dapat memberi manfaat untuk sebanyak-banyaknya orang lain yang dengannya pula kami mendapat ridhoMu...

(Copas dari Grup Whatsapp PH MM DA JS 1)

Kasih Sayangku, Menyerta Doa dalam Tambah Usia

Dua orang gadis. Yang satu memegang tumpeng, yang lain memegang sebuah poster bertuliskan, "Happy Birthday!! We love you :* :*" Dan seorang lelaki mengabadikan kisah itu dalam sebuah bidikan kamera. Ketiganya tersenyum.
***

Subhanallah, skenario Allah itu sangat indah. Mungkin ada tawa, ada perih, ada tangis. Namun ketentuan Allah, itulah yang terbaik. Bagi mereka yang percaya, selalu ada barokah yang menyertainya. Insya Allah. Alhamdulillah. :)

Kasih, Aku Memanggilmu


Kasih, 
Dunia telah banyak berubah sepeninggalmu
Tak lagi kualami masa-masa sulitmu
Tak hanya hitam dan abu
Kini kulihat merah, jingga, ungu
Dan warna keindahan lain
Malam yang tak lagi menjadi pakaian
Biduan dan gemerlap dunia
Aroma sampanye dan shisha
Ilham yang kaudapat
Satu persatu menjadi nyata
Tetapi dunia seperti tak berpihak
Atau sengajakah ia membiarkan semua

Kasih,
Ah, pantaskah aku memanggilmu kekasih?
Aku mengaku kekasihmu namun tak banyak kumengingatmu
Aku mengaku kaulah tambatan jiwaku bahkan kuabaikan ajakanmu
Kekasih macam apakah aku ini?
Dan cintamu yang luas selalu bisa menyentuhku kembali

 “Umatku, umatku,” 
Kau tak urung mengkhawatirkanku di saat jiwa hendak berpisah raga
Empat belas abad bukanlah waktu yang singkat
Namun getar seruanmu tetap menggema dalam sukma

Kau telah lama hidup dalam lingkungan yang tak baik
Pahit getir perjuangan melawan upadaya
Yang menghalangimu membawa pesan surga
Namun kau bertahan
Dan umatmu semakin besar
Kau pun telah merasakan indahnya kemenangan
Telah kau sampaikan pula firman Tuhan sehingga ialah Islam, agama yang sempurna

Barangkali itu yang terbaik
Ia tak membiarkanmu berlama-lama di bumi 
seperti para utusan pendahulu
Agar tidak hancur hatimu melihat masjid-masjid yang sepi di kala subuh
Agar tak ada risau di hatimu mendengar kesah 
mereka yang menahan hartanya demi sabilillah

Duhai, 
Maafkan aku karena menjadi kekasih yang tak baik
Namun izinkanlah aku berharap
Pertemuan kita kan menjadi nyata
Kan kulihat senyummu
Kupanggil engkau dengan bahasamu
Dan kau kenali aku
“Umatku,”


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
 كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
رواه مسلم ج ٣ ص ١٣٠ 
-dalam subuh merindu
15 Mei 2013

CATATAN RAHASIA AYAH


Ayah dan ibu telah menikah lebih dari 30 tahun, saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar.

Di dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan bagi saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi seorang pria yang baik, seorang suami yang baik seperti ayah saya. Namun harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah sulit.


Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar hanya akibat hal – hal kecil dalam rumah tangga. Malam minggu pulang ke kampung halaman, saya tidak kuasa menahan diri hingga menuturkan segala keluhan tersebut pada ayah.


No More Galau Penempatan

Baca status senior hari ini:
mungkin butuh konsul ke dokter mata , biar bisa cepet dapet mata pencaharian baru.

Fiuhh.. Another senior' sarcastic status. Saya sedikit prihatin dengan kegalauan kakak-kakak kelas tidak kunjung ditempatkan. Dari curhatan seorang kakak kelas, yang bisa saya terima, sebenarnya mereka bisa saja menandatangani kontrak di perusahaan lain. Hanya saja, karena mereka juga terikat dengan ikatan dinas yang mau tidak mau siap kapanpun dipanggil untuk penempatan, ya mereka tidak bisa menandatangani sembarang kontrak. Paling banter ya magang saja.


Sebagai mahasiswa tingkat akhir, pantaslah ya kalau kita ikut galau penempatan. Tapi kita kan sudah diajari untuk berdoa. Saatnya kita aktifkan senjata kita! toreet toreet...!

Setan, Rezeki, dan Warna Langit pada Saat Waktu Sholat

Saya dapat artikel ini dari salah satu Page komunitas di Facebook. Ya kalau ditanya tentang kebenarannya, wallahu a'lam, belum nyampe otak saya. Lagipula karena ini hasil riset, insya Allah bisa dibuktikan oleh yang ahli di bidangnya. 
Anyway baca deh, insya Allah bikin kita tambah rajin solat tepat waktu. :)


Tahukah anda bahwa warna merah yang dipancarkan oleh alam ketika itu mempunyai resonansi yang sama dengan jin dan syaitan. Kita lebih baik untuk berada di dalam rumah pada waktu magrib ini.”


Tepat Waktu



oooh pantesan… hawa setan ternyata.. Berikut hasil lengkapnya :

Penawar dari Tuhan

Bismillaahirrahmaanirrahiim. 
Ini hari kesekian saya mengikuti perkembangan berita tentang artis dan narkoba. Ya, kita sedang membicarakan kasus yang sama. 
 Obat-obatan, yang saya tahu banyak orang yang menggunakannya untuk menghilangkan kesedihan, atau kesepian. Terutama untuk jenis MDMA atau ekstasi, obat itu memberikan efek stimulan seperti meningkatkan rasa senang, rasa percaya diri dan energi meningkat. Efek psikedelik meliputi perasaan kedamaian, penerimaan dan empati. Wajar saja kalau banyak orang menduga, mereka menggunakan obat-obatan tersebut untuk dopping. 
Kita semua tentunya bisa mengerti kalau setiap orang memiliki masalah masing-masing. Tetapi kita tidak bisa memberi toleransi kepada orang-orang yang menggunakan obat-obat terlarang sebagai pelarian. 

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al Israa: 82)

 Allah telah memberikan solusi terhadap semua kegalauan hati. Allah telah menyerukan kepada kita untuk mendekatkan Alquran pada kita, bukan mendekatkan obat-obatan atau yang lainnya. Kita sebagai orang iman harus lebih banyak berusaha mempertebal keimanan agar tidak terpengaruh untuk mencoba hal-hal yang memudharatkan. 
Well, kasus artis dan narkoba ini tentunya menjadi pelajaran, siapapun bisa menjadi korban. Mari kita memohon perlindungan pada Allah agar barang-barang tersebut tidak mendekat kepada kita dan keluarga kita.
 "Dan jika mbesok ajal ibu datang, ibu ingin kalian puteri2 ibu yg memandikan jenazah ibu. Ibu ingin dimandikan di pangkuan kalian. Dan ibu ingin kamu, anak lanangku, yang ngimami sholat jenazahnya. Biar gak sia2 ibu mendidik kalian sejak kecil, mendoakan kalian agar jadi anak sholeh sholehah".
- Pak Aceng Karimullah

Trilemma Mahasiswa: Boleh Gaul, Asal...

Assalamualaikum, teman-teman. akhirnya saya punya kesempatan untuk melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang trilema mahasiswa. Sebelumnya kita telah membahas tentang pentingnya  nilai yang baik. Maka kali ini, yuk kita lanjutkan obrolan kita tentang social life.

Sama seperti good grades, social life menjadi penting sebab ia semacam penanda seberapa gaulkah kamu, atau lebih tepatnya, bagaimanakah kamu ketika di tengah-tengah teman-temanmu. Untuk mengakrabkan diri dengan teman-temanmu, kamu perlu meluangkan waktu untuk bersama teman-temanmu. Bahkan, mendapatkan social life yang baik, kita termasuk beribadah secara horizontal.

Islam tidak hanya mengajarkan penyembahan dan pengagungan kepada Allah sebagai hubungan dengan Allah (hablumminallah), tetapi juga sangat memperhatikan hubungan dengan sesama manusia (hablumminannas) sebagai bentuk lain suatu ibadah.

    • Popular
    • Categories
    • Archives