Hati-hati, Durhaka pada Orang Tua!


Spesial untukku, adik-adikku, dan semua anak yang mencintai kedua orang tuanya.

Ingat dengan kisah Malin Kundang? Kisah tentang anak yang menjadi batu sebab tidak mengakui ibundanya yang miskin. Di masa taman kanak-kanak dulu, saya dan teman bergidik ngeri ketika mendengar ceritanya dari Ibu Guru. Saya juga pernah mendengar cerita serupa, Batu menangis. Saya mengetahuinya dari majalah yang setiap bulan dibelikan Bapak ketika pulang kantor kala itu. Ceritanya hampir sama, tentang anak yang menyebut ibunya sendiri pembantunya. Dengar-dengar batunya masih ada hingga saat ini di suatu tempat di Kalimantan Barat.

Dari cerita-cerita yang ada, saya menyimpulkan sendiri kalau anak yang durhaka itu anak yang tidak mengakui orang tuanya, atau anak yang bersikap kasar pada orang tua, bentuknya seperti menghardik, membentak, menendang orang tua, seperti ilustrasi yang ada di majalah.


Namun sejalan dengan usia saya yang semakin tua *eh*, saya menemukan bentuk-bentuk baru yang menurut saya bisa dikatakan durhaka terhadap orang tua. Apa saja itu?
Mengkaryakan orang tua.
Awalnya orang tua diminta untuk tinggal di bersama si anak dan keluarga barunya. Lalu orang tua ‘dimintai tolong’ momong cucunya sementara ia bekerja. Lama-lama memasak, membereskan rumah dan mengurus anak (cucu) dilakukan oleh orang tua.

Tidak memberikan nafkah kepada orang tua bila mereka membutuhkan.
Ketika berangkat kuliah, saya sering bertemu seorang bapak yang sangat renta, menuntun sepedanya dan dibelakangnya ada dua keranjang besar pisang untuk dijual. Saat melihatnya, yang pertama kali di benak saya adalah, “Dimana anaknya? Kenapa bapak setua ini masih harus panas-panas jualan pisang?” Ya wallahu a’lam, saya juga tidak tahu apakah bapak itu punya anak atau tidak. Yang jelas, kalau bapak itu punya anak, harusnya sang anak tidak membiarkannya menderita seperti itu kan?

Mengirim orang tuanya ke Panti Jompo
Ini sih saya taunya dari tivi. Saya memikirkan perasaan orang-orang yang dikirim anaknya ke panti jompo. Bagaimana ya, perasaan mereka? Kalian yang pernah nonton film animasi Up pasti tau kisah Mr. Carl Fredricksen yang ogah dikirim ke panti jompo dan menerbangkan rumahnya yang penuh kenangan itu ke Paradise Fall dengan balon. Ia lebih memilih rumahnya daripada panti jompo.

Tidak melayani mereka dan berpaling darinya.
Ini saya lihat di tivi juga *ketahuan jadi korban tivi*. Insya Allah dalam sebuah iklan, seorang ibu menelepon anaknya. Tapi si anak yang sudah kerja itu mengabaikannya, bahkan sempat kesal karena sang ibu meneleponnya terus.
Mengatakan “ah” kepada orang tua ketika beda pendapat.
Paling sering dilakukan, tapi kita tidak sadar (atau telat sadarnya) kalau itu sama saja durhaka pada orang tua. Ini koreksi buat saya juga kok. Karena saya sangat dekat dengan orang tua dan orang tua sering menempatkan diri sebagai sahabat buat anak-anaknya, kadang-kadang saya kebablasan juga, dan baru sadar ketika terlanjur berkata ‘ah’ itu. Menyesal deh.

Konklusinya, segala sesuatu yang membuat hati orang tua tidak ridho, disitulah kita sedang durhaka kepadanya.
Nah, teman-teman, yuk kita sama-sama koreksi diri kita, apakah kita sudah menghindari hal-hal yang membuat orang tua tidak ridho pada kita.


p.s.: teman-teman yang punya dalil tentang ancaman anak yang durhaka kepada orang tua, atau keutamaan memuliakan orang tua, ayo share di sini! Kita sama-sama belajar, ya.

No comments:

Post a Comment

Berbagi tak pernah rugi, bagilah ilmu Anda kepada kami. :)

Post a Comment

    • Popular
    • Categories
    • Archives